Gunung Ceremai Gunung Ceremai (3.078 Mdpl) adalah tujuanku di penghujung tahun 2010 kemarin. Maka aku dan temanku Novian pada tanggal 26 Desember 2010 berangkat menuju Kuningan Jawa Barat dengan rute pendakian melalui jalur Lingarjati. Untuk rute atau jalur pendakian ke gunung Ceremai sendiri terdapat 3 jalur utama yaitu, melalui desa Linggarjati dan desa Palutungan di Kuningan dan satu jalur lagi melalui desa Apuy di Majalengka. Kami berangkat pagi hari menggunakan bis melalui terminal Pulo Gadung. Kami melalui terminal ini karena bis yang menuju Kuningan dari terminal ini sangat banyak, pukul 08:00 pagi bis berangkat (kami menggunakan bis Luragung Jaya dengan biaya Rp.35.000 perorang dan masih bisa ditawar kok…) dan langsung menuju Kuningan Jawa Barat. Setelah 5 jam perjalanan kami tiba di pertigaan Linggarjati, dari sini kita berganti dengan kendaraan angkot dengan tarif perorang Rp.5.000 perorang dengan waktu tempuh sekitar 10 – 15 menit. Sesampainya di pos pendakian desa Lingarjati kami beristirahat dan menginap semalam di rumah penduduk sekaligus untuk menyaksikan pertandingan bola antara Indonesia vs Malaysia.

Condang Amis Pagi tanggal 27 Desember 2010 pukul 07:15 kami mulai melakukan pendakian ke gunung Ceremai. Setelah melalui camping ground di Cibunar (750 Mdpl) kita memasuki kawasan hutan pinus yang berbatasan dengan ladang penduduk dan Leuweng Datar (1.225 Mdpl), jalur ini sangat rapat dan kami berpikir mungkin sudah jarang dilalui pendaki namun kami tetap berjalan dengan berhati-hati hingga tiba di Condang Amis  pada pukul 10:20. Disini kami berbincang-bincang dengan beberapa pendaki yang kami temui dan dari perbincangan ini kami mendapatkan info bahwa jalur pendakin dari pos Linggarjati telah ditutup dan diganti dengan pos pendakian melalui desa Linggasana. Dan dari Condang Amis ini ada jalur baru menuju pos pendakian di desa Linggasana dengan jalur yang relatif datar walaupun sedikit  memutar.

Kuburan Kuda Gunung Ceremai Dari Condang Amis ini kami melanjutkan perjalanan menuju Kuburan Kuda (1.450 Mdpl) dan tiba disini pada pukul 12:20, disini kami beristirahat dan makan siang. Pada pukul 13:05 kami melanjutkan perjalanan tak lama kami tiba di Pangalap pada pukul 14:00, disini kami memutuskan mendirikan tenda dikarenakan hujan mulai turun dan juga agar beban kami terhindar dari air hujan, mengingat beban yang kami bawa pada pendakian kali ini cukup berat.

Pangalap Gunung Ceremai Pukul 16:00 sore hari angin sangat kencang berhembus dan berkabut, kami merasa badai menerjang gunung Ceremai ini. Mungkin suasana di atas lebih parah kondisinya dari tempat kami mendirikan tenda saat ini. Suara angin yang menderu-deru dan cukup keras ini berlangsung lama hingga pukul 03:00 dini hari.

Bapa Tere Gunung Ceremai Batu LinggaPagi harinya cuaca sangat mendukung untuk melanjutkan pendakian maka setelah sarapan pada pukul 08:00 kami kembali melanjutkan perjalanan. Dari Pangalap ini jalur semakin menanjak dan berat. Pada pukul 08:20 kami tiba di Tanjakan Sareni (1.825 Mdpl) dan pukul 10.05 kami tiba di Bapa Tere (2.025 Mdpl).  Setelah beristirahat kami melanjutkan kembali pendakian dan tiba di Batu Lingga (2.200 Mdpl) pada pukul 11.30.

Sangga Buana Selanjutnya kita akan melalui Sangga Buana (2.500 Mdpl) dan tiba di sini pada pukul 13.05. Sangga Buana ini terbagi dua lokasi yaitu Sangga Buana atas dan Sangga Buana bawah. Dan di kedua lokasi ini kita dapat mendirikan tenda namun di Sangga Buana atas kadang terdapat air yang menetes dari bebatuan dan hanya berlangsung saat musim hujan saja. Namun aku sarankan bagi para pendaki untuk tetap membawa air dari pos pendakian / dari bawah, dikarenakan gunung Ceremai ini tidak terdapat sumber mata air.

Pangasinan Dari Sangga Buana ini kami melanjutkan perjalanan menuju Pangasinan dimana kami merencanakan akan mendirikan tenda di tempat ini. Kami tiba di Pangasinan (2.800 Mdpl) pada pukul 14.20, di Pangasinan ini kami mengurungkan niat untuk mendirikan tenda dikarenakan lokasinya yang terlalu terbuka serta angin yang bertiup sangat kencang dan sangat membahayakan bila kita tetap memaksakan mendirikan tenda di tempat ini. Hal ini dapat terlihat dari papan nama Pangasinan yang jatuh serta beberapa pohon yang patah akibat terpaan angin yang kencang, mungkin badai kemarin terjadi di tempat ini.

Gunung Ceremai Untuk menghindari bahaya akibat badai maka kami kembali turun menuju Sangga Buana atas dan mendirikan tenda di tempat ini, di lokasi ini cukup aman dari terpaan angin terlihat dari pohon2 yang tidak tumbang dan patah  di sekitarnya juga lokasinya yang cukup terlindung dari terpaan angin. Tak lama kami mendirikan tenda kami juga bertemu dengan seorang pendaki asal Cirebon yang mendirikan tenda di tempat ini. Beruntung sore harinya hujan hingga kami mendapatkan tambahan air yang dapat kami manfaatkan untuk memasak, walaupun persediaan air yang kami bawa masih cukup untuk 2 hari kedepan.

Puncak Panglongokan Pagi tanggal 29 Desember 2010, pukul 07:00 kami melanjutkan pendakian menuju puncak Ceremai. Dalam perjalanan kami banyak melihat pohon-pohon yang tumbang akibat terpaan angin. Selama perjalanan menuju puncak ini angin bertiup sangat kencang dan beberapa kali kami berlindung di celah-celah bebatuan atau di jalur untuk berlindung dari terpaan angin secara langsung belum lagi ditambah pekatnya kabut yang datang secara tiba-tiba. Pada pukul 08:40 kami tiba di bibir kawah yaitu di Puncak Panglongokan (3.027 Mdpl), di sini kami beberapa kali berlindung karena angin yang sangat kencang dan berunding untuk meneruskan pendakian atau tidak.

Gunung Ceremai Setelah beristirahat dan menunggu sekitar 30 menit cuaca tidak juga berubah bahkan lebih membahayakan, dimana selain jarak pandang yang terbatas karena kabut juga kerasnya hembusan angin yang membuat kami sulit untuk berdiri. Maka kami memutuskan untuk turun kembali ke tempat kami mendirikan tenda di Sangga Buana atas.

Setelah beristirahat pada siang harinya kami memutuskan untuk turun kembali ke pos pendakian dimana cuaca yang buruk tidak mendukung  kami untuk tetap melanjutkan pendakian kembali menuju puncak Ceremai. Pukul 12:00 siang kami mulai meninggalkan Sangga Buana atas dan menuju pos pendakian di desa Linggasana, kami tiba di pos ini sekitar pukul 19:00 malam hari. Saat kami tiba ternyata baru saja diumumkan bahwa gunung Ceremai ditutup untuk pendakian karena cuaca buruk. Beruntung tidak terjadi apa-apa terhadap kami sepanjang pendakian kemarin dan kami pun berbincang-bincang dengan petugas di pos tersebut. Dari perbincangan tersebut kami mendapatkan beberapa nomor yang bisa dihubungi untuk pendakian ke gunung Ceremai yaitu:Gunung Ceremai

Pos 1 : Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.

No telp: 085624749889 – 081564616212 – 081564994342

Semoga dengan no ini dapat membantu rekan-rekan yang ingin mengetahui atau mendapatkan informasi saat ingin melakukan pendakian ke gunung Ceremai.

Setelah lelah berbincang kami bermalam kembali di rumah penduduk di desa tersebut. Esok harinya kami kembali menuju Jakarta melalui rute yang sama dan bis yang sama namun saat kami menuju Jakarta kami hanya dikenai biaya Rp.30.000 perorangnya hahaha untung Rp.5.000, Sampai bertemu lagi dengan cerita pendakian selanjutnya.

Terima kasih kepada:

  • Novian, teman seperjalanan dan foto-fotonya
  • Penduduk di desa Linggarjati
  • Pos pendakian di desa Linggasana, Kec Cilimus, Kab Kuningan
  • Kang Heri, di desa Linggasana