Diary itu telah tertutup rapat, entah siapa pemiliknya
Tergeletak begitu saja diatas sebuah meja kehidupan diantara kursi-kursi kayu
Rasa penasaranku tak mampu menahan jari-jariku untuk menyentuhnya
Lalu terungkaplah lembaran demi lembaran merasuk dalam otakku

Ya, diary ini membuatku ingin membacanya
Lembar demi lembar telah berlalu, dan semua kesedihan tampak begitu jelas
Tampak pula beberapa tetes air mata yang telah mengering
Juga beberapa goresan-goresan tanpa makna yang telah tertuang jelas

Semakin dalam ku resapi makna dari rangkaian kata itu
Hanya penyesalan dan kehilangan yang dapat kumengerti
Ada juga beberapa sketsa yang terukir dalam halaman-halaman berikutnya
Yang mengambarkan tentang masa-masa keemasan si pemiliknya

Dan…….. Apakah ini..?
Secarik kertas yang berukuran lebih kecil terselip dalam lembarannya
Yang mengambarkan tentang suatu wujud, yang terlahir dalam keping-keping kehidupan
Ternyata masih ada keceriaan yang muncul dalam kepedihan itu

Kulanjutkan membaca alur kehidupan ini dan entah mengapa semua membeku
Apakah mungkin pemiliknya sudah lelah..? Hingga tidak mampu lagi untuk merangkai kata
Aku termenung melihat lembar terakhir yang nampak masih kosong
Hanya keheningan jiwa semu yang tetap terasa lirih

Ingin rasanya aku menuliskan beberapa kata, tentang arti suatu kehidupan pada lembar itu
Namun apakah benar jika aku menuangkan beberapa goresan kata…?
Dan apakah dapat memperbaiki suatu kehidupan yang jelas telah terbuang…?
Kembali kututup diary itu dan kuletakkan kembali di atas meja kehidupan

Mungkin suatu saat nanti, aku akan kembali ke meja ini untuk membacanya
Sambil bersandar di kursi kayu dan melihat lembar terakhir itu
Dan bila mana kudapatkan lembar itu masih tetap kosong……..
Akan kutuangkan semua syair kehidupan, serta kata-kata cinta sebagai mahkotanya