> Gaya Hidup

> Hobi

Berburu Klobot Sampai Kretek

Senin, 27 Oktober 2008 | 09:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Medi blusukan di sebuah pasar tradisional di Boyolali, Jawa Tengah. Bercelana pendek dan bersandal jepit, dia keluar-masuk kios. Gerak-gerik pria yang membawa handy talkie di kantongnya itu mengundang perhatian petugas keamanan setempat. Dia pun dibuntuti. “Saya disangka intel,” ujarnya, mengenang peristiwa lima tahun lalu itu.

imagetempointeraktifcom1 Padahal dia hanya produser eksekutif sebuah rumah produksi di Jakarta yang ingin mencari rokok kretek tradisional. Begitu tahu maksud pemilik nama lengkap E. Mediarto ini, petugas itu pergi. Medi pun kembali leluasa berburu hingga berhasil mendapatkan 10 merek rokok tradisional seharga Rp 50 ribu.

Lain lagi cerita Djoko Santoso memburu rokok. Menjelang Lebaran silam, pegawai perusahaan properti di Bekasi ini memberikan uang kepada teman-temannya yang akan pulang kampung. Namun, uang itu bukan tunjangan hari raya. “Tapi titipan,” ujar penggemar rokok ini. Dengan uang itu, ia bermaksud meminta kawannya membeli rokok lokal di daerah masing-masing. Hasilnya, Djoko mendapat lebih dari 50 merek lokal dari para co-hunter–sebutan untuk pemburu rokok bantuan–itu.

Menitip beli rokok seperti Djoko atau mencari sendiri seperti Medi tak segan dilakoni para kolektor rokok untuk menambah koleksinya. Bahkan perburuan para kolektor sampai ke dunia maya. Melalui Internet, mereka berkomunikasi dan bertukar koleksi. Mereka yang semula tak saling kenal kini menjadi teman hingga membentuk sebuah perkumpulan.

Komunitas Kolektor Rokok Indonesia, misalnya. Pertemanan lewat media online sejak awal 2008 adalah cikal-bakal perkumpulan ini. Ketika itu sesama kolektor, di antaranya Djoko Santoso, E. Mediarto, F. Iskandar, dan Deddy, saling kontak di dunia maya. Sampai pada 14 Agustus lalu, mereka bersepakat membuat mailing list dengan nama komunitas_kolektor_rokok_indonesia@yahoogroups.com.

Anggota komunitas ini datang dari beragam profesi, mulai dosen, pengacara, pegawai BUMN, sampai pensiunan perusahaan asuransi. Tempat asal mereka tak hanya Jakarta dan sekitarnya, tapi juga Bandung, Cirebon, Riau, hingga Makassar.

Ahad pekan lalu, komunitas ini menggelar jumpa darat di rumah Medi di bilangan Cirendeu, Ciputat, Tangerang. Sebelas orang ngumpul. Mereka bersepakat membentuk website komunitas ini. Dana berasal dari “bantingan” para anggotanya. Rencananya, situs web akan dibuat dengan nama kolektor-rokok.org. Emirza Irsan terpilih sebagai ketua komunitas.

Dalam pertemuan itu mereka saling melihat koleksi. Jika ada yang tertarik, “Kami barter koleksi,” kata F. Iskandar, yang akrab dipanggil Cak Kandar, anggota komunitas. Mereka pun menyumbangkan koleksi masing-masing untuk menjadi koleksi bersama.

Jumlah koleksi para anggota beragam, dari ratusan hingga ribuan merek. Medi, yang gemar mengoleksi benda klasik sejak 1995, misalnya, kini memiliki lebih dari 1.500 bungkus rokok. “Satu bungkus satu merek,” katanya.

Dari berbagai koleksi milik anggota komunitas itu, menurut Fabian Koesoemadinata, yang akrab disapa Fabi, anggota komunitas, ditemukan merek yang ditengarai meniru merek lain. “Desainnya meniru rokok terkenal, bahkan sekilas tampak sama,” ujarnya.

Misalnya saja ada rokok yang menggunakan merek angka 333, 345, dan 369. Mereka ditengarai meniru rokok Dji Sam Soe, yang terkenal dengan logo angka 234. Namun, ada juga rokok yang pede dengan mereknya sendiri. Ada yang bermerek Pers, Flexy, GSM, Idol Mild, WTC, Blank, Mentari.

imagetempointeraktifcom-2 Para anggota komunitas ini mengoleksi rokok yang memiliki kertas cukai. Koleksi yang paling tua keluaran 1990. Untuk mendapatkan koleksi itu, mereka mencari ke berbagai tempat. Januari mendatang, rencananya mereka berburu rokok ke Cirebon, Jawa Barat. Kadang perburuan mereka sampai menyeberang ke luar Pulau Jawa, seperti Mataram, Nusa Tenggara Barat; dan Samarinda, Kalimantan Timur.

Koleksi paling murah dimiliki Djoko. Ia membeli rokok merek Samudera Biru seharga Rp 1.000 tahun ini di Tuban, Jawa Timur. Deddy, anggota komunitas lainnya, pernah membeli rokok Chung Hwa seharga Rp 30 ribu di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ada juga anggota yang mengoleksi rokok klobot yang bungkusnya dari kulit jagung, cerutu, shisha (rokok dari Arab), sampai rokok elektrik.

Koleksi rokok itu tak ada yang dipakai. Para anggota komunitas hanya memajangnya sebagai benda kesayangan. Mengoleksi rokok, kata Cak Kandar, menghadirkan kenikmatan batin tersendiri. “Kalau malam, pas saya tak bisa tidur, seneng rasanya memandangi koleksi saya,” katanya. Merawat koleksi rokok itu pun terhitung gampang. “Paling cuma dilap, menghilangkan debu,” kata Fabi.

Muhammad Nur Rochmi

copy dari : http://www.tempointeraktif.com/hg/hobi/2008/10/27/brk,20081027-142281,id.html